Sesi foto sudah selesai, file sudah kamu taruh di Google Drive, link sudah dikirim ke klien. Lalu masuk babak yang paling sering bikin capek: menunggu klien memilih foto. Beberapa hari kemudian datang chat, "Kak, aku mau yang DSC_4512, 4518, 4520... eh yang 4518 ganti 4519 aja deh."
Kalau kamu pernah mengalami ini, artikel ini buat kamu. Kita bahas kenapa cara lama sering bermasalah, cara manual yang bisa dirapikan, dan cara membuat klien memilih sendiri di galeri tanpa kamu harus mencocokkan nama file satu per satu.
Masalahnya bukan di klien, tapi di caranya
Google Drive enak buat menyimpan dan berbagi file. Tapi Drive tidak dibuat untuk memilih foto. Klien membuka folder berisi ratusan file, lalu harus mencatat nama file yang dia suka. Biasanya lewat HP, sambil scroll, sambil membalas chat lain.
Dari situ muncul masalah yang hampir semua fotografer kenal:
- Salah ketik nama file. Satu angka meleset, foto yang kamu edit ternyata bukan yang dimaksud.
- Pilihan berubah-ubah. Klien menambah, mengganti, lalu menghapus, dan semuanya tersebar di beberapa chat.
- Jumlahnya tidak jelas. Paketnya 50 foto edit, yang dikirim 73. Atau 41, lalu klien bilang "nanti nyusul".
- Pasangan atau keluarga ikut memilih. Pengantin wanita kirim daftar, pengantin pria kirim daftar lain, ibunya titip tiga foto lagi.
- Kamu yang mencocokkan. Setelah daftar final, kamu masih harus mencari file RAW-nya satu per satu di laptop.
Semua itu makan waktu yang seharusnya dipakai buat mengedit.
Cara manual yang paling umum (dan kelemahannya)
Sebelum masuk ke alat, ada beberapa cara manual yang sering dipakai fotografer. Lumayan membantu, asal kamu tahu batasnya.
1. Minta klien kirim nama file lewat chat. Paling gampang, paling rawan. Masih oke kalau fotonya sedikit, misalnya sesi wisuda dengan belasan foto. Untuk wedding dengan ratusan foto, ini sumber salah file paling sering.
2. Minta screenshot. Klien tidak perlu mengetik, tapi kamu yang harus membaca screenshot satu per satu dan mencari filenya. Pekerjaannya cuma pindah ke kamu.
3. Pakai komentar atau bintang di Drive. Bisa, tapi klien harus login, komentarnya susah direkap, dan tidak ada batas jumlah. Klien yang semangat bisa memberi bintang ke separuh folder.
4. Buat spreadsheet pilihan. Lebih rapi untuk direkap, tapi klien harus bolak-balik antara folder foto dan spreadsheet. Banyak klien menyerah di tengah jalan.
Kalau mau tetap manual, minimal lakukan ini: pakai nama file yang pendek dan berurutan, sebutkan jumlah maksimal dengan jelas, dan minta klien mengirim daftar final dalam satu pesan saja.
Cara lebih rapi: galeri seleksi dari folder Drive
Cara yang lebih tenang adalah memberi klien halaman galeri khusus untuk memilih. Klien tinggal ketuk foto yang disuka, jumlahnya terhitung sendiri, dan kamu menerima daftar yang sudah rapi.
Di Pilihin, galeri seleksi dibuat langsung dari folder Google Drive yang sudah kamu punya. Fotonya tetap di Drive, tidak perlu upload ulang. Langkahnya begini:
- Bagikan folder Drive sebagai "Anyone with the link" (siapa saja yang punya link).
- Tempel link folder itu ke Pilihin. Tidak perlu menghubungkan akun Drive.
- Isi kontak klien, lalu klik Buat Galeri. Atur juga batas jumlah foto yang boleh dipilih dan tenggat waktunya.
- Bagikan link galeri ke klien lewat WhatsApp atau DM.
- Klien memilih di galeri. Ada Mode Swipe yang nyaman di HP, pencarian, dan penghitung jumlah pilihan. Pilihan tersimpan otomatis, jadi klien bisa lanjut besok tanpa mulai dari awal.
- Kamu menerima daftar pilihan yang rapi di dashboard, tanpa menyalin dari chat.
Galerinya bermerek studiomu: nama dan warna aksenmu. Klien tidak melihat nama Pilihin, yang dia lihat studio kamu. Membuat dan mengirim galeri seleksi bisa dimulai tanpa biaya.
Mau tahu rasanya dari sisi klien? Ada demo galeri seleksi yang bisa kamu coba dengan folder Drive sendiri.
Dari pilihan klien langsung ke Lightroom
Daftar rapi saja belum cukup kalau kamu masih harus mencari file RAW satu per satu. Di sinilah Pilihin Picker berguna.
Picker membaca daftar pilihan klien dari galeri, lalu mencocokkan nama file dengan file RAW di folder komputermu. Setelah itu kamu bisa memilih:
- Impor ke Lightroom Classic sebagai collection, siap diedit.
- Tandai di Lightroom dengan flag, bintang, atau label warna.
- Salin RAW ke folder baru, cocok kalau kamu mengedit di aplikasi lain.
File aslinya tetap di komputermu. Picker bisa dicoba gratis satu kali. Setelah itu bayar per galeri (Rp7.000) atau pakai Pilihin Pro. Rinciannya ada di halaman Harga.
Tips supaya klien cepat memilih
Alat apa pun yang kamu pakai, beberapa kebiasaan ini bikin proses seleksi jauh lebih lancar.
Beri batas jumlah sejak awal
Tulis di kontrak atau pesan pertama: "Paket ini termasuk 50 foto edit." Klien yang tahu batasnya akan memilih lebih serius. Kalau dia mau lebih, kamu bisa menawarkan tambahan foto edit dengan harga yang jelas, bukan memberi gratis karena sungkan.
Pasang tenggat yang masuk akal
Tanpa tenggat, seleksi bisa molor berminggu-minggu dan jadwal editmu ikut berantakan. Sekitar satu minggu biasanya cukup untuk wedding, beberapa hari untuk sesi kecil. Kirim pengingat sopan satu atau dua hari sebelum tenggat.
Kirim versi kecil, bukan RAW
Untuk folder seleksi, cukup taruh JPG hasil ekspor cepat dengan ukuran sedang, misalnya sisi panjang sekitar 2.000 piksel. Klien lebih cepat membukanya di HP, dan file RAW tetap aman di komputermu. Satu hal penting: jangan ganti nama file saat ekspor. Kalau nama JPG sama dengan nama RAW, mencocokkan pilihan klien jadi mudah, baik manual maupun lewat Picker.
Jelaskan apa yang sedang dipilih
Klien sering bingung: ini foto yang mau diedit, dicetak, atau masuk album? Tulis satu kalimat di pesanmu, misalnya "Pilih 50 foto favorit untuk diedit. Foto lainnya tetap kamu terima tanpa edit." Pertanyaan susulan jadi berkurang.
Satu orang yang mengirim pilihan final
Kalau yang ikut memilih lebih dari satu orang, minta mereka berdiskusi dulu, lalu satu orang yang mengirim pilihan final. Ini menghindari dua daftar berbeda yang harus kamu gabungkan sendiri.
Penutup
Seleksi foto lewat chat terasa sepele sampai kamu salah mengedit foto karena satu angka yang keliru. Mulai dari hal kecil: batas jumlah yang jelas, tenggat, dan nama file yang konsisten. Kalau mau lebih rapi lagi, biarkan klien memilih langsung di galeri dari folder Drive-mu, lalu bawa hasilnya ke Lightroom tanpa mencari file satu per satu.